Palembang — Mesin pemurnian air itu seharusnya tiba di Aceh dengan selamat. Bersama perlengkapan salat, ia disiapkan untuk satu tujuan sederhana namun mulia: membantu warga korban banjir menyambut Ramadan dengan lebih layak. Namun di tengah perjalanan panjang lintas pulau, misi kemanusiaan itu justru terhenti oleh sesuatu yang tak pernah mereka perkirakan—rasa takut.
Siang itu, Rabu (7/1/2026), rombongan relawan asal Jakarta keluar dari Tol Keramasan, Palembang. Mereka bukan konvoi mewah, hanya satu kendaraan sederhana bernomor polisi B 1025 EIX, membawa harapan dalam bentuk logistik. Tapi di depan Terminal Karya Jaya, Kertapati, harapan itu seakan dipalak di tengah jalan.
Kevin, salah satu relawan, masih mengingat jelas tatapan dan nada bicara yang membuat dadanya sesak. Mereka sudah menjelaskan siapa mereka, ke mana tujuan mereka, dan apa yang mereka bawa. Bahkan, menurut Kevin, oknum petugas yang menghentikan mereka terlihat paham bahwa mobil tersebut adalah kendaraan relawan.
Namun empati tak hadir di sana.
“Kami sudah jelaskan ini bantuan untuk korban banjir. Tapi tetap ditahan,” ujar Kevin lirih.
Di tengah panas jalanan Palembang, pilihan relawan itu semakin sempit. Mereka dihadapkan pada dilema klasik: melawan ketidakadilan atau memastikan bantuan tetap sampai tepat waktu. Kevin memilih jalan kedua—jalan yang sering kali harus ditempuh oleh para relawan di negeri ini.
Ia mencoba berdamai.
“Daripada ribet, saya tanya maunya gimana. Saya kasih Rp50 ribu,” katanya.
Jawaban yang datang justru membuat suasana berubah dingin.
“Kurang,” jawab oknum tersebut singkat.
Kalimat berikutnya lebih menusuk daripada denda apa pun.
“Perjalanan masih jauh, mau aman nggak?”
Bagi Kevin, kalimat itu bukan sekadar kata. Itu ancaman terselubung. Sebuah pesan bahwa keselamatan bisa menjadi tawar-menawar.
Di lokasi yang ramai, seorang rekannya bahkan sempat dikerumuni beberapa orang. Situasi membuat Kevin memilih maju sendirian, ditarik ke seberang jalan, ke sebuah pos. Obrolan panjang tak mengubah apa pun—mobil tetap ditahan, misi tetap terhambat.
Padahal, sejak awal, bantuan yang mereka bawa disusun berdasarkan asesmen kebutuhan korban banjir Aceh. Mesin pemurnian air sangat krusial, begitu pula perlengkapan ibadah menjelang bulan suci. Waktu adalah segalanya.
Kronologi perjalanan mereka pun menambah ironi. Ambulans yang membawa logistik itu sebelumnya mengalami ban pecah di ruas Tol Lampung–Palembang. Mereka keluar tol demi mencari pengganti ban, bukan untuk menghindari aturan. Namun justru di titik itulah mereka dihentikan dengan alasan administratif—tanpa KIR—yang berujung pada permintaan “uang damai”.
Peristiwa ini bukan sekadar cerita tentang satu mobil relawan. Ini potret buram tentang bagaimana jalan kemanusiaan di negeri ini masih sering dipenuhi rintangan non-teknis. Ketika relawan harus memilih antara melawan atau mengalah demi korban bencana, keadilan terasa berjalan tertatih.
Di tengah semangat gotong royong yang kerap dielu-elukan, kisah ini menjadi pengingat pahit: masih ada palang tak kasat mata yang menghalangi niat baik. Dan sering kali, palang itu berdiri di tempat yang seharusnya menjadi penjaga, bukan penghadang.
Bantuan itu akhirnya tetap melanjutkan perjalanan. Namun luka batin para relawan mungkin tak semudah itu disembuhkan. Mereka tidak mencari pujian, apalagi kekayaan. Mereka hanya ingin satu hal: jalan kemanusiaan yang aman, jujur, dan bermartabat.





