Nepotisme Gaya Baru, Lagu Lama Kaset Kusut

oleh -248 Dilihat

Tangerang, poskota.online- 17 hari lagi menjelang kemerdekaan republik Indonesia yang ke-78, didalam memeriahkan kemerdekaan negara tercinta tentunya banyak sekali kegiatan yang penuh suka cita. Dimulai dari berbagai perayaan, lomba sampai dengan pengenalan budaya dan mengenangan jasa para pahlawan.

Namun benarkah negeri kita telah merdeka?

ketika didalam UUD 1945 dijelaskan kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan penjajahan diatas dunia harus di hapuskan, seolah kita menolak kolonialisme tapi nyatanya justru saat ini kita telah menjadi kolonialisme itu sendiri untuk bangsa kita.

Pancasila sebagai sebagai lambang negara namun nyatanya tidak sedikitpun melambangkan kondisi yang ada, jika ada 5 sila sebagai simbol kehidupan bernegara tapi nyatanya berketuhanan nya seperti masih sangat sulit untuk dilakukan. Lantas bagaimana untuk sampai kepada sila ke-5 yang berbicara keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Ini adalah opini dari penulis berdasarkan apa yang dilihat dan dialami secara langsung didepan mata. Tulisan ini diberi judul New Nepotisme. Nepotisme adalah sifat berkepihakan kepada seseorang atas dasar rasa kedekatan tanpa penilaian secara objektif dari sisilainnya.

Nepotisme telah terjadi sejak lama sekali setelah kemerdekaa, bahkan puncak dari nepotisme secara gamblang dirasakan pada periode Presiden ke-2 republik indonesia, namun tidak dapat dipungkiri dibawah pemerintahan presiden jokowi hal itu mulai terjadi tanpa banyak orang sadari.

Tapi kita disini tidak akan membahas jauh kepada ranah perpolitikan, pada tulisan kali ini penulis akan memberikan parameter terjadi yang ada di dunia pendidikan.

Memastikan setiap warga negara mendapatkan pendidikan yang layak adalah salah satu tugas pemerintah. Karena keberlangsungan hidup suatu negara dapat dilihat bagaimana perkembangan pendidikan generasi penerusnya.

Upaya pemerintah didalam menjamin warga negara nya mendapatkan pendidikan yang layak saya rasa sudah sangat luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya program beasiwa yang dikeluarkan oleh berbagai pemerintah terkhusus bagi mereka yang tidak mampu.

Namun upaya pemerintah tersebut diciderai oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab. Dimulai dari menggelapkan dana bantuan sampai dengan adanya ketidak adilan serta pemerataan dalam pemberian bantuan.

New Nepotisme, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi saat ini, dimana prioritas utama didalama menentukan tujuan penerima bantuan adalah ia yang kenal dekat dengan pihak pihak pengelola, bukan tentang siapa yang membutuhkan tetapi lebih kepada siapa yang berhubungan dekat.

Kegiatan ini sudah menjadi rahasia umum dimana mereka yang memiliki kehidupan cukup justru malah mendapatkan bantuan lebih untuk biaya pendidikannya. Sedangkan bagi mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan harus berjuang mati matian melawan bobrok nya birokrasi yang ada.

Salah satu program upaya didalam memastikan masyarakat agar mendapat pendidikan yang layak adalah beasiswa KIP ( Kartu Indonesia Pintar ). Entah bagaimana cara mendapatkan kartu istimewa tersebut, dari obrolan penulis dengan salahg satu lembaga pemerintah.

Dikutip dari laman orami.co.id bahwa KIP diperuntukan bagi mereka yang ekonomi nya menengah kebawah. Sehingga peruntukan kartu tersebut adalah untuk meringankan beban biaya pendidikan bagi mereka mereka yang hidupnya dibawah garis kemiskinan namun harapan untuk menyelesaikan pendidikan sangatlah tinggi.

Tapi pada implementasi nya orang orang yang mendapatkan beasiswa dari program KIP tersebut adalaha mereka yang memiliki Smartphone terbaru dan kendaraan dengan CC yang tinggi. Bahkan tak sedikit yang memiliki gaya hidup bermewah mewahan.

Didalam kejadian yang terjadi didepan mata penulis, penulis beropini hal ini terjadi berawal dari rasa ketidak enakan antar individu dengan individu yang lain/Lembaga dengan lembaga yang lain. Rasa berhutang budi adalah dasar yang kuat hal ini dapat terjadi bukan hanya karena kedekatan kekeluargaan saja.

Gambaran untuk para pembaca dsini penulis akan memeberikan sedikit contoh anggaplah ada dua orang atau lembaga, kita sebut si A dan si B. Si A adalah seorang yang memiliki jabatan tertentu di sebuah lembaga dan si B adalah teman dekat si A yang memiliki posisi penting disebuah lembaga berkat bantuan si A. karena si B ini merasa sudah sering kali dibantu oleh si A, ketika si A meminta sesuatu kepada si B tentu saja si B akan merasa tidak enak untuk menolak nya karena rasa hutang budi yang ada. Hal inilah yang terus berkembang dimulai dari ketidak enakan pribadi sampai kepada rasa hutang budi antar lembaga yang melibatkan banyak pihak.

Contoh lainnya adalah beberapa berita viral belakangan ini dimana seorang anak yang terpilih menjadi pasukan pengibar bendera pada hut NKRI yang ke 78 harus tergantikan oleh seseorang yang tidak lulus tes hanya karena orang tuanya seorang aparat.

Begitulah sedikit opini dari penulis terkait new nepotisme. Nepotisme yang terjadi saat ini terbangun atas dasar hutang budi dan rasa ketidak enakan antar individu yang beralih mempengaruhi kepentingan umum. Bahkan tak jarang hal ini melanggar sesuatu yang telah di sepakati sebagai dasar hukum. (Red//Hadiid Al-Yasa)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.